Kabut Asap Kembali Menyelimuti Ketapang, Jarak Pandang dan Aktivitas Warga Jadi Perhatian

KETAPANG — Kabut kembali terlihat menyelimuti kawasan perkotaan Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Sabtu (3/10/2026). Kondisi tersebut tampak dari suasana jalan utama yang terlihat berkabut dengan jarak pandang ke arah kejauhan yang berkurang.
Foto yang diambil di salah satu ruas jalan di kawasan perkotaan Ketapang memperlihatkan aktivitas lalu lintas masih berlangsung. Sejumlah sepeda motor dan kendaraan roda empat tetap melintas, sementara deretan bangunan di sepanjang jalan tampak semakin samar pada bagian yang lebih jauh.
Kondisi atmosfer tersebut terjadi di tengah masih berlangsungnya persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kabupaten Ketapang.
Berdasarkan laporan RRI pada 2 Oktober 2026, BMKG Supadio Pontianak memperkirakan sejumlah wilayah Kalimantan Barat masih didominasi cuaca berawan dan kabut asap. BMKG juga menyebut kabut asap menyebabkan penurunan kualitas udara di sejumlah wilayah.
Sehari kemudian, kondisi karhutla di Ketapang masih menjadi perhatian. RRI melaporkan bahwa satgas udara pada 2 Oktober melakukan pemadaman di sejumlah lokasi di Kabupaten Ketapang. Di beberapa lokasi, kondisi asap dilaporkan masih tebal, bahkan faktor jarak pandang menjadi salah satu kendala dalam operasi penerbangan.
Data lain yang diberitakan pada 2 Oktober juga menunjukkan Ketapang masih menjadi salah satu wilayah dengan jumlah titik panas yang tinggi di Kalimantan Barat. Sebuah laporan menyebut dari 36 titik panas yang terdeteksi di Kalbar, 27 di antaranya berada di Ketapang.
Bukan Sekadar Persoalan Pandangan
Kemunculan kabut di kawasan perkotaan bukan hanya persoalan visual. Apabila kondisi tersebut merupakan bagian dari kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, dampaknya dapat berkaitan dengan kualitas udara dan jarak pandang.
Namun demikian, foto tersebut saja tidak cukup untuk memastikan bahwa kabut yang terlihat di lokasi merupakan asap karhutla. Untuk memastikan hal tersebut diperlukan data kualitas udara, informasi meteorologi, serta data sebaran asap dan titik panas pada waktu dan lokasi yang bersesuaian.
Hal ini penting karena istilah kabut, kabut asap, dan kondisi udara berkabut tidak selalu memiliki penyebab yang sama.
Ketapang di Tengah Kondisi Kering
Kondisi tersebut juga perlu dilihat dalam konteks cuaca yang sedang berlangsung. BMKG pada 2 Oktober melaporkan bahwa kondisi atmosfer di sejumlah wilayah Indonesia masih relatif kering dan banyak wilayah masih mengalami periode tanpa hujan yang panjang. BMKG juga menyebut kondisi kering tersebut berkaitan dengan masih tingginya jumlah titik panas di sejumlah wilayah.
Sementara itu, pemerintah Kabupaten Ketapang sebelumnya telah mengingatkan masyarakat mengenai ancaman karhutla. Pada Agustus 2026, Pemkab Ketapang menyebut wilayah tersebut berada dalam status siaga kekeringan dan siaga bencana asap akibat karhutla.
Dengan demikian, kemunculan kembali kondisi berkabut di Ketapang pada Sabtu pagi menjadi fenomena yang perlu diperhatikan, terutama apabila berlangsung dalam waktu lama dan disertai penurunan kualitas udara.
Yang menjadi pertanyaan berikutnya bukan sekadar "apakah Ketapang berkabut?", tetapi "apa yang menyebabkan kabut tersebut, seberapa luas penyebarannya, dan bagaimana dampaknya terhadap masyarakat?"
Untuk menjawabnya diperlukan data lapangan dan informasi resmi mengenai kualitas udara, jarak pandang, arah angin, titik panas, serta lokasi kebakaran pada waktu yang sama.
Sumber Referensi:
https://rri.co.id/pontianak/regional/2781486/cuaca-kalbar-2-oktober-2026-kabut-asap-masih-menyelimuti-sejumlah-wilayah
https://rri.co.id/pontianak/nasional/2783639/satgas-udara-kerahkan-dua-heli-wb-padamkan-karhutla-9-lokasi-di-kabupaten-ketapang

Tinggalkan Komentar