Turun Langsung ke Pelang, Sekda Ketapang Pantau Percepatan Pemadaman Karhutla 20 Hektare

Sekda Ketapang Repalianto meninjau langsung lokasi Karhutla di ruas Jalan Pelang-Kepuluk. Menghadapi kendala lahan gambut dan angin kencang, tim gabungan terus berjibaku memadamkan api yang telah melahap 20 hektare lahan.
Usai menyerahkan santunan duka kepada keluarga korban kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Desa Sungai Besar, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Ketapang, Repalianto, S.Sos., M.Si., langsung bergerak memantau titik pusat api. Inspeksi lapangan ini dilaksanakan pada Rabu (05/08/2026), bertempat di ruas Jalan Pelang–Kepuluk KM 5 hingga KM 10, Desa Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan.
Dalam peninjauan tersebut, Sekda didampingi jajaran pejabat teras Pemkab Ketapang, di antaranya Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra, Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), Kepala Dinas Lingkungan Hidup, serta Kepala Dinas Kominfo.
Jalankan Instruksi Bupati untuk Optimalkan Penanganan
Kehadiran Sekda di lokasi Karhutla merupakan tindak lanjut dari instruksi langsung Bupati Ketapang. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi strategi pemadaman sekaligus memastikan seluruh elemen yang bertugas di lapangan bersinergi dengan baik hingga situasi dinyatakan aman.
"Sesuai arahan Bapak Bupati, kami hadir untuk memastikan koordinasi tim gabungan berjalan maksimal sampai api benar-benar padam dan dilakukan pendinginan. Mengingat cuaca kemarau saat ini, keselamatan masyarakat dan pengguna jalan adalah prioritas utama kami," tegas Repalianto di lokasi kejadian.
Ia juga kembali menyerukan imbauan keras kepada warga agar menghentikan kebiasaan membuka lahan dengan cara dibakar. Jika warga melihat kemunculan titik api, mereka diminta segera melapor agar tidak meluas menjadi bencana besar.
Kendala Pemadaman: Gambut Kering dan Krisis Air
Berdasarkan pengecekan di lapangan, amukan si jago merah diperkirakan telah menghanguskan sekitar 20 hektare lahan. Pihak kepolisian saat ini masih menyelidiki penyebab pasti munculnya titik api di kawasan yang memang rawan terbakar saat kemarau panjang tersebut.
Tim gabungan yang bertugas menghadapi tantangan berat. Tiupan angin kencang membuat api cepat menjalar di atas lahan gambut yang tebal dan sangat kering. Kendala lainnya adalah krisis sumber air di titik lokasi. Armada pemadam terpaksa harus menyuplai air dari area permukiman warga yang berjarak sekitar 10 kilometer.
Puluhan Personel dan Strategi Water Bombing Dikerahkan
Untuk menaklukkan kobaran api, sebanyak 87 personel gabungan telah diterjunkan ke lokasi. Pasukan ini terdiri dari 28 personel BPBD Ketapang, 15 personel Manggala Agni, 15 personel Batalyon Infanteri (Yonif) 832, 13 personel Polres Ketapang, 4 personel Koramil 1203-13/MHS, 2 personel Satpol PP, serta 10 anggota Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) gabungan dari Desa Sungai Pelang dan Sungai Besar.
Berbagai strategi taktis terus digenjot untuk mempercepat pendinginan. Selain pemadaman darat dan pengaturan lalu lintas agar pengguna jalan tetap aman, operasi ini juga didukung oleh pemadaman udara (water bombing) yang dikoordinasikan langsung oleh BPBD Provinsi Kalimantan Barat.

Tinggalkan Komentar